Tentang Jalatera

Mengenal lebih dekat dgn kami
Nama Organisasi : Yayasan JALATERA – Kepanjangan dari Jaringan Masyarakat Sipil Untuk Kesejahteraan. Status Organisasi Organisasi Non Pemerintah (NGO) yang berstatus dan berbadan hukum Yayasan, bersifat independen dan non partisan. Sejarah Organisasi Pembentukan Yayasan ini berangkat dari Ide gagasan untuk menggabungkan inisiatif lokal dan Nasional dalam percepatan penanggulangan kemiskinan, melalui Strategic Alliance for Poverty Alleviation (SAPA) kerjasama dengan Kementrian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan R.I (Menko PMK), untuk mewujudkan ide Strategi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (SPKD) yang partisipatif sesuai yang dituangkan dalam Peraturan Presiden 13 tahun 2009. Di Surakarta sejak tahun 2009 dibentuk TKPKD, tetapi dalam perjalanannya kelembagaan ini berjalan sangat lambat, hal ini dipengaruhi tidak banyak stake holder yang memahami fungsi kelembagaan TKPKD dan kurangnya dukungan dari pemangku kepentingan yang terlibat dalam TKPKD khususnya Kelompok Masyarakat Sipil untuk kolaborasi dengan pemerintah daerah. Pada akhir tahun 2010, TKPKD Kota Surakarta melakukan evaluasi mengukur efektivitas jalannya kelembagaan dalam memfasilitasi upaya penanggulangan kemiskinan. Dalam evaluasi tersebut untuk mendukung kerja TKPKD dibutuhkan (1) Dukungan data base dan sistem informasi kemiskinan yang baik, tidak tersedianya data kemiskinan seringkali menjadikan intervensi program tidak tepat sasaran, tidak sesuai dengan kebutuhan warga miskin dan terjadi tumpang tindih atas penerima manfaat program. (2) TKPKD perlu memperkuat kapasitas organisasi agar masing-masing kelompok program dan kelompok Kerja di TKPKD dalam merancang Kegiatan bisa berjalan dengan baik. Sekretariat TKPKD perlu membangun mekanisme koordinasi dan mempertegas fungsi masing-masing kelompok kerja yang lebih jelas. Berdasarkan masalah tersebut diatas, beberapa anggota TKPKD yang berasal dari masyarakat sipil mendirikan Yayasan yang memiliki tiga misi utama yaitu :
    • Melakukan asistensi Tim Penanggulangan kemiskinan Daerah untuk pengembangan Konsep penanggulangan Kemiskinan
    • Pengembangan Sistem Informasi Kemiskinan berbasis Web dan memperluas cakupan penerima manfaat penanggulangan kemiskinan dengan melakukan pendataan secara partisipatif
    • Advokasi regulasi kebijakan untuk penanggulangan kemiskinan.
    • Pendampingan keluarga miskin dalam pengembangan usaha kelompok, pemberdayaan, pembukuan dan manajemen keluarga.
Kerjasama Pemerintah Kota Surakarta dan Yayasan sampai dengan saat ini (Dijalankan pada tahun 2012 sampai dengan 2018), memberikan keyakinan tahapan-tahapan yang harus ditempuh untuk melakukan proses percepatan penanggulangan kemiskinan, diantaranya adalah :
    • Penataan Kelembagaan TKPKD, model mekanisme koordinasi sebagai kerangka sinergitas program antar Organisasi Perangkat daerah (OPD) dan stake holder yang lain yang tersistematisir akan mampu menjadi salah satu cara agar program yang dijalankan efektif.
    • Pengembangan Dokumen kemiskinan berbasis Keluarga dan faktor penyebab kemiskinan, menjadi salah satu rujukan basis perencanaan setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Data yang dikembangkan selain data kemiskinan dari nasional juga mengembangkan data kemiskinan lokal kota surakarta, dengan memperluas cakupan penerima manfaat program. Seluruh data dikelola dalam Aplikasi Sistem Informasi kesejahteraan (SIK) berbasis web dan disepakati sebagai satu-satunya aplikasi yang akan digunakan untuk tata kelola data kemiskinan.
    • Dokumen Rencana Strategis Masyarakat (RENSTRAMAS) Kelurahan, dimana persoalan lingkungan menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan. Dengan adanya identifikasi permasalahan lingkungan diharapkan bisa mengurangi kerentanan dan kerawanan munculnya warga miskin baru. Dokumen Renstramas saat ini satu-satunya bahan rujukan dalam musyawarah perencanaan Pembangunan Kelurahan (musrenbangkel).
    • Strategi Manajemen Keroyokan Pada Kantong kemiskinan. Untuk proses percepatan penanggulangan kemiskinan, pemerintah kota surakarta memakai strategi manajemen Keroyokan, dimana seluruh stake holder pembangunan diarahkan fokus pada kelurahan kantong kemiskinan. Adapun dokumen yang dipakai menjadi acuan adalah RENSTRAMAS dan Data kemiskinan berbasis keluarga.
Pelajaran baik dengan pemerintah kota Surakarta dalam membangun strategi penanggulangan kemiskinan, mendorong Yayasan untuk mereplikasikan ke Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar dan Wonogiri ( Dijalankan pada tahun 2019 sampai dengan 2020). Adapun tahapan kegiatan yang dicapai di masing-masing Kabupaten adalah sebagai berikut :
    • Tersedianya sistem informasi Kesejahteraan berbasis Keluarga dan faktor penyebab kemiskinan, di tingkat Kabupaten web Based yang terintegrasi dengan Sistem Informasi Desa (SID). Adapun sumber data dari data Pembaharuan Basis Data Terpadu (PBDT) 2015, dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dari Kementrian Sosial
    • Menguji efektifitas Metodologi Participatory Poverty Assesement (PPA) berbasis keluarga di 5 desa di tiap Kabupaten untuk Menentukan warga miskin secara Partisipatif. Hasil uji coba mampu menunjukkan tingkat ketidak validtan DTKS antara 29 % sampai dengan 33 % terkoreksi oleh masyarakat, baik itu yang sudah meninggal dunia, pindah dan tidak layak miskin. Adapun jumlah Usulan baru untuk warga miskin yang belum terdata di DTKS mencapai 23 % sampai dengan 32 %. Metodologi ini juga diuji berdasarkan peserta uji publik di tingkat RW atau Dusun dengan peserta kelompok Perempuan, Kelompok Laki-laki dan kelompok Campuran. Hal ini untuk menguji tingkat keakurasian informasi yang dihasilkan.
    • Menguji efektifitas Metodologi Participatory Poverty Assesement (PPA) berbasis Spasial di 1 desa tiap Kabupaten sebagai bahan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDES). Persoalan yang selama ini dihadapi desa dalam implementasi UU No. 6 tahun 2014 tentang desa atas penggunaan Dana Desa (DD) maupun Alokasi Dana Desa (ADD) masih belum optimal penggunaannya dari sisi pro poor, pro growth dan pro job, hal ini ditandai dengan pembangunan desa masih terkonsentrasi pada pembangunan fisik. Dengan metodologi yang dikembangkan desa mampu melihat potensi dan masalah yang terjadi baik dari bidang Kesehatan, Infrastruktur, Pendidikan, Ekonomi dan rural/asset-asset desa. Desa memiliki kemampuan menganalisa perencanaan yang diharapkan mampu mengoptimalkan potensi desa untuk menjadi daya ungkit penurunan angka kemiskinan.
Akte Notaris
    • Pertama kali didaftarkan pada kantor Notaris Sunarto, SH dengan akte Nomor 63 pada tanggal 26 April 2011 dengan Nama : Yayasan Jejaring Rakyat Miskin (JERAMI)
    • Pembaharuan Akte Pertama dilakukan melalui Kantor Notaris Sunarto, SH Nomor 63 pada tanggal 28 Juni 2018 dengan Nama : Yayasan Jejaring Rakyat Miskin (JERAMI). Pembaharuan akte dilakukan karena terjadi perubahan Kepengurusan di Yayasan.
    • Pembaharuan Akte Ketiga dilakukan melalui Kantor Notaris Dr. Susilowardani, SH, M.Kn dengan akte Nomor 26 pada tanggal 14 Juli 2020 dengan Perubahan Nama menjadi: Yayasan Masyarakat Sipil Untuk Kesejahteraan (JALATERA). Perubahan ini dilakukan berdasarkan surat Keputusan pengurus Yayasan Nomer : 134-Int/JERAMI/V/2020 yang mempertimbangkan kalimat “Miskin” sudah tidak dianggap relevan lagi dan diganti dengan kalimat “Kesejahteraam”
    • Pengesahan Pendirian Organisasi dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-0011974.AH.01.04.Tahun 2020.

 Tujuan Yayasan JALATERA

Yayasan JALATERA berketetapan untuk menjadi organisasi simpul yang berupaya melakukan pengawalan atas ketidakadilan proses-proses pembangunan dan mendorong terjadinya perencanaan pembangunan berbasis data melalui pengembangan pendidikan di masyarakat dan melakukan studi-studi kebijakan serta advokasi. Yayasan JALATERA memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat terhadap pelaksanaan pemenuhan hak-hak warga negara diantaranya adalah hak ekonomi, politik, sosial dan budaya yang harus dipenuhi serta dijalankan oleh pemerintah.  

Visi Yayasan JALATERA

Mengupayakan terciptanya pembangunan berbasis masyarakat yang berkeadilan, berkesetaraan, partisipatif, keterbukaan dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan derajat kesejahteraan masyarakat, khususnya kelompok rentan dan marginal.  

Misi Yayasan JALATERA

Dalam usaha mencapai visinya tersebut, Yayasan JALATERA mengemban misi antara lain :
  1. Melakukan penguatan masyarakat sebagai bagian upaya memperkuat negara, dimana masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu melakukan kontrol terhadap kebijakan negaranya dan negara yang kuat adalah negara yang mampu memenuhi hak–hak masyarakatnya.
  2. Mengembangkan Metodologi perencanaan yang berbasis masyarakat baik data berbasis spasial, berbasis keluarga maupun berbasis pada mata pencaharian sebagai landasan perencanaan pembangunan.
  3. Mengembangkan Sistem Informasi berbasis Teknologi dan Informasi (TI) agar terjadi tata kelola data yang baik  mulai level desa/kelurahan maupun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) secara open source.
  4. Mengembangkan Pendidikan-pendidikan perencanaan berbasis masyarakat, tata kelola data dan diharapkan semakin banyak simpul-simpul belajar yang terbangun di masyarakat.
  5. Mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah agar semakin berpihak pada masyarakat dan mendorong pentingnya public participatory mechanism.
  6. Mengembangkan penerbitan buku-buku dan tulisan-tulisan serta bahan-bahan belajar lainnya untuk mendorong proses perubahan yang lebih luas.

Fokus Program Jalatera

Yayasan Jala Lentera Indonesia (JALATERA) memfokuskan kegiatannya pada isu-isu strategis untuk mendorong terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:

  • Inklusi Keuangan Digital — Penguatan kapasitas UMKM perempuan dalam mengakses dan mengelola layanan keuangan digital.
  • Advokasi Kebijakan — Mendorong kebijakan publik yang berpihak pada kelompok rentan dan marginal.
  • Penanggulangan Kemiskinan — Pengembangan metodologi pendataan kemiskinan partisipatif dan program pemberdayaan warga miskin.
  • Desa Membangun — Pendampingan desa dalam perencanaan pembangunan berbasis data dan partisipasi warga.
  • Perubahan Iklim — Advokasi dan edukasi terkait dampak perubahan iklim di tingkat lokal bagi komunitas rentan.

DEWAN PEMBINA

Ahmad Rifai
AHMAD RIFAI (KETUA)

Ahmad Rifai memulai jejak aktivismenya sebagai organisator kelompok marginal perkotaan, dan dengan pengalaman hampir 20 tahun di dunia LSM, ia telah membangun portofolio yang sangat kuat di bidang manajemen proyek, isu tata kelola perkotaan, informalitas perkotaan, kemiskinan perkotaan, penganggaran partisipatif dan perencanaan partisipatif. Pemegang gelar MA dari UIN Yogyakarta, dan gelar MSc dari Social Development Practices, DPU, University College London.

TEGUH HARI PRIHATONO ( ANGGOTA)

Aktivis demokrasi dan pemberdayaan masyarakat berkeadilan sosial

DEWAN PENGAWAS

TRIWAHYUNI SUCI WULANDARI
TRIWAHYUNI SUCI WULANDARI (KETUA)

Aktif di dunia pemberdayaan masyarakat lebih dari 13 tahun dan memiliki spesialisasi di isu GEDSI, advokasi anggaran daerah, pengentasan kemiskinan dan knowledge management. Saat ini, dia sedang memperkaya kompetensinya terkait isu green budgeting dan keuangan digital inklusif perempuan. Suci mempunyai kemampuan menulis, analisa, fasilitasi dan memiliki jaringan yang baik dengan berbagai stakeholder. Sebelum bergabung menjadi ketua pengawas di Yayasan Jalatera, aktif di Yayasan Lestari Indonesia dengan posisi terakhir staff advokasi dan Perkumpulan IDEA Yogyakarta dengan posisi terakhir direktur program. Suci memiliki pengalaman sebagai konsultan independen dan juga memberikan asistensi kepada pemerintah.

ISNU SUNTORO
(ANGGOTA)

Pembelajar, peminat dan pegiat teknologi informasi dan komunikasi, penganut sumber daya terbuka

DEWAN PENGURUS

DIYAH AYU WECANINGSIH
(KETUA)

Penyuka tanaman hias dan pehobby travelling ini bergabung dengan Tim Kerja Yayasan Jalatera sejak tahun 2020 awal dilahirkannya Yayasan Jalatera. Dimana sebelumnya Yayasan Jalatera sebenarnya adalah  peleburan dari Yayasan Jerami yang sudah lebih dulu eksis di issu Data Kemiskinan Terpadu pada tahun 2012 - 2020. Tahun 2018-2020 Dyah bergabung dengan Yayasan Jerami yang aktif berkegiatan dalam pembangunan data kemiskinan di Kota Surakarta dan kabupaten penyangga yaitu Karanganyar, Wonogiri dan Sukoharjo. Dalam perjalanannya tahun 2020 Yayasan Jerami melebur menjadi Yayasan Jalatera.

ZAKARIA, SE
(SEKRETARIS)

Pegiat pemberdayaan masyarakat, fokus pada penanggulangan kemiskinan, mitigasi perubahan iklim, dan ekonomi kerakyatan

 
Dwi Maya Sari
DWI MAYASARI
(BENDAHARA)

Aktivis lembaga swadaya masyarakat yang baik dalam administrasi keuangan adalah mereka yang teliti, jujur, dan selalu berkomitmen pada keakuratan. Dengan ketekunan dan integritas tinggi, mereka tidak hanya menjaga keseimbangan angka, tetapi juga memastikan setiap keputusan finansial didasarkan pada data yang terpercaya. Keandalan mereka dalam menyusun laporan keuangan dan pengelolaan dana perusahaan menjadi pondasi kuat bagi keberhasilan organisasi.

Struktur Organisasi

  BENCHMARKS  
Loading Time: Base Classes  0.0032
Controller Execution Time ( Home / Aboutus )  0.0324
Total Execution Time  0.0383
  GET DATA  
No GET data exists
  MEMORY USAGE  
4,090,656 bytes
  POST DATA  
No POST data exists
  URI STRING  
home/aboutus/%E2%80%9Chttps:/themewagon.com
  CLASS/METHOD  
home/aboutus
  DATABASE:  jalatera_web (Home:$db)   QUERIES: 2 (0.0058 seconds)  (Hide)
0.0056  
SELECT ID,post_title, post_title_en, post_subtitle, post_subtitle_en, post_content, post_content_en, post_cover
        FROM tweb_posts WHERE (ID=1334 OR post_parent=1334) AND situs_id=1 AND post_status='publish'
        ORDER BY FIELD(post_name,'tentang-jalatera','misi-kami','fokus-program','tim-kerja') ?>
0.0002  
SELECT a.associate_id, a.associate_name FROM tweb_associates a 
                WHERE a.associate_is_member=1 ?>
  HTTP HEADERS  (Show)
  SESSION DATA  (Show)
  CONFIG VARIABLES  (Show)