Your Cart 3

  • Marketing Course
    Brief description
    $120
  • Strategy Course
    Brief description
    $80
  • Digital Course
    Brief description
    $50
  • Total (USD) $250

Search

Kabar Yayasan Jala Lentera Indonesia

Menggapai Keberdayaan dari Keterbatasan: Perjalanan Iput Bangkit Bersama DIVA UMKM

Dari merasa ragu dengan kemampuannya sendiri, kini Bu Iput—perempuan difabel asal Karanganyar—menjalani hidup dengan percaya diri, berkat perjalanannya bersama program DIVA UMKM dari Jalatera. Sebagai seorang difabel, Bu Iput sebelumnya tidak pernah keluar rumah sendiri tanpa didampingi oleh orang tua. Namun, semenjak bergabung dengan DIVA UMKM, Bu Iput menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan berani.  Bu Iput sudah mempunyai toko kelontong sejak sebelum pandemi, tepatnya sekitar tahun 2019. Ada cerita menarik di balik awal mula beliau membuka toko kelontong. Berawal dari beliau mendapatkan sebuah etalase dari program di desanya, beliau mengira etalase tersebut datang beserta isinya. Saat itu, beliau meminta etalase beserta isi untuk membuka usaha konter, tapi ternyata yang datang hanya etalase nya saja. Kemudian, Bu Iput mencari jalan, dengan modal tabungan kecil yang berasal dari uang jajan yang biasa diberikan oleh bapaknya, Bu Iput akhirnya mulai berjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Awalnya, toko kelontong Bu Iput memang belum selengkap itu, hanya menjual beberapa barang kebutuhan dasar. Hasil dari penjualan tersebut kemudian digunakan kembali untuk melengkapi kebutuhan toko kelontongnya. Usaha Bu Iput tidak hanya terbatas pada toko kelontong, tetapi juga berkembang ke bidang desain digital sejak bergabung dengan program DIVA UMKM pada tahun 2024. Berawal dari hobi menggambar sejak kecil, kini Bu Iput memiliki usaha sampingan yang menjual karya desain digital.  Pertama kali mengikuti pelatihan DIVA UMKM, Bu Iput merasa minder dan ragu karena kondisinya berbeda dengan teman-teman lain yang bisa berjalan, sementara beliau memiliki keterbatasan fisik. Bahkan setelah pelatihan, beliau cerita ke ibunya tentang keraguannya. Namun, hatinya tergerak, “Mereka saja bisa, masa saya tidak bisa, walaupun saya memiliki kondisi yang berbeda saya ingin menunjukan juga bahwa meskipun mempunyai kekurangan, saya bisa mengimbangi mereka.” Dari situ, Bu Iput bersemangat dengan membuktikan bahwa difabel bukan menjadi suatu halangan untuk maju dan berkarya. Bagi Bu Iput, DIVA UMKM lebih dari sekadar pelatihan. Dari situ, beliau bertemu teman-teman yang saling mendukung dan menghargai. Jalatera dan DIVA menjadi “rumah kedua” bagi Bu Iput, sebuah tempat di mana beliau merasa diterima dan mendapatkan perhatian yang selama ini belum pernah dirasakannya.  Kini, Bu Iput semakin percaya diri dengan wawasan dan pengetahuannya bertambah luas. Beliau mempunyai harapan, apabila usahanya berjalan lancar, beliau ingin merekrut teman-teman difabel lainnya agar mereka juga mempunyai kesempatan untuk bekerja. Bu Iput ingin menunjukkan bahwa sebagai difabel bukan berarti tidak mampu, justru bisa bersinergi dan maju bersama. Info : Instangram @juwatikusuma

Liputan Penelitian Mahasiswa FISIP UNS Surakarta tentang Sosiologi Gender dalam Program DIVA UMKM

Surakarta, 8 Desember 2025 — Yayasan Jalatera kembali menjadi ruang belajar bagi mahasiswa yang ingin lebih memahami isu sosial secara lebih dekat. Kali ini, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta berkunjung dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Sosiologi Gender. Melalui kunjungan ini diharapkan para mahasiswa menjadi lebih memahami dan melihat langsung bagaimana perspektif gender diterjemahkan dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Setibanya di kantor Yayasan Jalatera, para mahasiswa disambut oleh Bu Dyah Ayu Wecaningsih dan Pak Zakaria. Sesi pembuka diawali dengan perkenalan singkat mengenai Yayasan Jalatera serta nilai-nilai apa saja yang menjadi dasar kegiatan Yayasan Jalatera selama ini. Dilanjutkan dengan sesi diskusi mengenai Program DIVA (Dorong Inklusi dan Visibilitas) Perempuan Pelaku UMKM melalui Akses Digital. Program ini berfokus pada penguatan kapasitas digitalisasi usaha pada perempuan pelaku usaha mikro. Program Diva UMKM tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan digital marketing saja, dalam pendampingan kelompok, Jalatera mendorong strategi menuju tangga bisnis agar tercapai kesejahteraan bagi Perempuan Pelaku UMKM. Perempuan pemilik UMKM menghadapi tantangan ganda yaitu hambatan ekonomi dan juga hambatan sosial berbasis gender. Tidak hanya beban kerja domestik yang tidak seimbang, terbatasnya akses modal, hingga rendahnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan. Sebagai istri dan ibu, perempuan pelaku UMKM menjalankan usaha tetap memikul tanggung jawab domestik rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah dan lain sebagainya. Kerja domestik rumah tangga masih dianggap sebagai kodrat perempuan, yang kemudian menyebabkan keterbatasan waktu, tenaga dan pikiran bagi perempuan untuk mengembangkan usahanya. Suasana Diskusi Suasana Diskusi Kemandirian perempuan pemilik UMKM juga sering tidak mendapat pengakuan mulai dari keluarga sampai Lembaga Keuangan. Penghasilan yang didapat dari usaha ber UMKM masih dianggap sebagai pendapatan sampingan keluarga, padahal bukan tidak mungkin justru menjadi penopang ekonomi keluarga. Kesulitan sering dialami perempuan pemilik UMKM ketika akan mengajukan pinjaman tambahan modal karena tidak memiliki aset atas nama sendiri dan selalu mendapatkan pertanyaan : apakah suami mendukung usaha ini. Yang menunjukkan keraguan pada perempuan sebagai pengambil keputusan dan berperan penting. Kunjungan ini menjadi pengalaman lapangan yang membantu mahasiswa memahami bahwa isu gender bukan hanya topik akademik, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa melihat bagaimana gender memengaruhi pola kerja, peluang, dan proses pengambilan keputusan dalam sektor UMKM terutama pada perempuan pemilik UMKM. Yayasan Jalatera menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa FISIP UNS atas kunjungan dan ketertarikan mereka terhadap isu gender dan pemberdayaan UMKM. Jalatera berharap, kunjungan seperti ini dapat terus membuka ruang kolaborasi antara dunia akademik dan lembaga sosial. Semoga pertemuan ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk terlibat lebih jauh dalam kerja-kerja sosial dan menjadi generasi muda yang peka terhadap isu gender dan isu-isu sosial.

Rekonseptualisasi Penanggulangan Kemiskinan: Strategi Pendayagunaan Kelompok Miskin melalui Program Pemberdayaan Perempuan Bersama DIVA UMKM di Kelurahan Tipes

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tengah mengalami pergeseran makna menjadi sebuah skema alternatif dalam kamus perniagaan kaum marginal saat ini. Label UMKM beralih menjadi sarana pemerataan ekonomi, menyerap ratusan tenaga kerja pemula sehingga lapangan kerja baru deras terbuka. Hal tersebut semakin menyusutkan angka pengangguran di berbagai daerah, khususnya kota Surakarta. Namun di balik pergerakan yang melambung pesat, kemiskinan struktural masih menjadi provokator terbesar yang membelit mayoritas pelaku usaha mikro. Dilema tersebut berakar pada minimnya literasi keuangan, pemahaman terkait jejaring pemasaran, keterbatasan akses pendidikan dan teknologi, serta kesadaran terkait digitalisasi dalam berwirausaha. Fakta ini diperkuat oleh pengalaman Bu Madu Mastuti, pemilik usaha Kerajinan dan Tata Busanadi Kelurahan Tipes. Bu Madu menyatakan kemiskinan struktural sulit diberantas dengan adanya kerangka bantuan yang menghambat pemberdayaan kelompok miskin sebab didominasi oleh pendekatan karikatif jangka pendek serta rentan dipolitisasi. Berdasarkan pengalamannya, kelompok miskin belum memiliki kapasitas untuk melakukan monitoring terhadap penyaluran bantuan dan cenderung kurang memahami potensi diri. Bu Madu menegaskan perlu adanya program yang mampu mengkoordinasi probabilitas guna melahirkan kemandirian, terkhusus dalam berwirausaha. Alih-alih terjebak pada kerangka bantuan yang bersifat temporer, gerakan murni justru mampu memperlihatkan bahwa pemberdayaan dapat tumbuh dari prakarsa masyarakat itu sendiri. Contoh nyata dapat terlihat di Kelurahan Tipes, Bu Madu memimpin pembentukan “Wanita Berkarya” dan “Mastinimpil” sebagai pangkalan awal untuk melonggarkan kaum perempuan serta masyarakat Tipes lainnya dari jerat kemiskinan. Ia mengupayakan probabilitas usaha dengan konsistensi pemasaran produk yang inovatif, berdaya guna, serta saling menguntungkan antar pelaku UMKM. Melalui kelompok tersebut, kolaborasi antar masyarakat mulai dilangsungkan. Berbagai peluang bisnis juga dimodifikasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar. Saat pandemi lalu misalnya, penurunan minat konsumen menstimulasi terbentuknya inovasi pemanfaatan produk masker kain yang tidak hanya menggenapi kebutuhan konsumen tetapi disisi lain juga dapat mengurangi limbah tekstil. Permasalahaan teratasi, produk memiliki nilai jual tinggi, lantas usaha tetap berjalan sekalipun dalam kondisi krisis. Keefektifan gerakan murni dari masyarakat mengoreksi bahwa pemberdayaan berlandaskan kelompok mampu membentangkan sayap ekonomi bagi perempuan. Kendati demikian, gerakan tersebut masih membutuhkan sokongan yang terkonsolidasi. Pada titik inilah program DIVA UMKM dari Jala Lentera menyelaraskan peran sebagai medium pendayagunaan ekonomi perempuan di kelompok miskin. Program DIVA UMKM hadir dari realitas yang menunjukkan bahwa sejumlah UMKM masih berproses pada level subsisten. Semata-mata bertahan tanpa adanya ekspansi usaha akibat dari keterbatasan pemahaman tata kelola keuangan dan utilisasi teknologi. Sepanjang UMKM dibiarkan dalam struktur yang sama, peluang untuk membentuk inisiator pengentasan kemiskinan cenderung akan terkatup jalannya. Dalam upaya pengentasan tersebut, program DIVA UMKM menjembatani pelaku UMKM perempuan dengan pendampingan yang meliputi mentoring, training, inkubasi usaha, serta monitoring secara berkala. Melalui pendampingan, pelaku UMKM dibekali kompetensi literasi digital, gambaran platform e-commerce sebagai media promosi, interpretasi perilaku pasar, strategi pemasaran bersama, serta kalkulasi HPP (Harga Pokok Penjualan) selama berwirausaha. Bu Madu menyatakan apresiasi terhadap program DIVA UMKM karena telah memberikan bimbingan yang berdampak nyata, menyokong masyarakat di kelurahan Tipes dalam mewujudkan kemandirian ekonomi. Sinergisme dan dukungan program yang tepat guna mencitrakan lanskap nyata bahwa pemberdayaan perempuan mampu membentangkan jalan keluar dari jerat kemiskinan serta mewariskan jejak transformasi yang bernilai bagi seluruh pelaku UMKM.

Godhongkoe: Kisah Seni Bertahan Hidup Reno Melalui Ecoprint

Kalau bicara soal seni, biasanya yang kebayang itu hobi, tetapi bagi Bu Reno Suryani, seni justru menjadi cara untuk bertahan hidup. Bu Reno,pemilik dari Godhongkoe sekaligus training of trainers dari program DIVA UMKM yang dijalankan oleh Jalatera mempunyai kisah yang inspiratif tentang bagaimana beliau bisa bertahan, bangkit, dan berkembang di dunia ecoprint.  Sebelum mengenal ecoprint, Bu Reno merupakan seorang penulis di sebuah penerbit dari tahun 2008 hingga 2019. Pada akhir tahun 2019, beliau mengerjakan proyek buku baru mengenai keterampilan dan mulai bertemu dengan yang namanya ecoprint. Dari situ, beliau mulai mencoba bikin ecoprint sendiri, meskipun berakhir gagal terus, beliau tetap semangat belajar dan bereksperimen.  Lalu datanglah tahun 2020, pandemi melanda. Perusahaan penerbit tempat Bu Reno bekerja kolaps, semua karyawan dirumahkan, dan upaya untuk bangkit gagal karena pasarnya sudah teralihkan. Di titik itu beliau memutar otak, pemasukan dari pekerjaan hilang, sehingga mau tak mau beliau harus memulai usaha sendiri. Dari situ lahirlah Godhongkoe, 'seni bertahan hidup' Bu Reno.  Awalnya, Bu Reno berfokus pada batik tulis dengan pewarna alam, tetapi ada satu masalah terkait pembuangan limbah, beliau tidak punya tempat untuk membuang limbahnya karena produksi dilakukan di rumah sendiri. Dari situlah beliau mulai berpikir bahwa harus ada cara yang lebih ramah lingkungan dan akhirnya beliau beralih ke ecoprint. Walaupun beliau sudah pernah mencoba ecoprint sejak tahun 2019, beliau tetap mengikuti kursus untuk memperdalam kemampuannya dan mulai serius menekuni usaha ecoprint pada tahun 2021. Selain produksi, Bu Reno mulai membuka workshop ecoprint di tahun 2022. Awalnya beliau ragu, merasa belum pantas membuka kelas sendiri, tapi karena ada kenalan beliau yang bertanya, beliau akhirnya mencoba menggelar workshop pertamanya. Namun workshop pertama itu belum sesuai harapan karena persiapannya belum matang dan formulanya masih asal-asalan. Dari pengalaman itu, beliau menyusun formula yang lebih tepat dan membuat SOP untuk workshop berikutnya. Dengan melakukan workshop terus menerus, beliau juga berhasil membawa ecoprint sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang ada di beberapa sekolah. Sebelum kenal DIVA UMKM, pemasaran Godhongkoe mengandalkan jaringan sendiri melalui grup WhatsApp. Meskipun Bu Reno sudah memiliki Instagram, Google Business dan WhatsApp Business, pengelolaannya belum maksimal. Perubahan mulai terjadi pada tahun 2023, peserta DIVA UMKM mengajaknya bergabung komunitas, tapi awalnya Bu Reno ragu karena pengalaman teman-temanya soal komunitas membuat enggan bergabung. Namun, setelah dijelaskan bahwa DIVA UMKM berfokus membantu perempuan dan difabel melek digital, beliau merasa cocok dan mendaftar hingga akhirnya beliau terpilih menjadi salah satu trainer program DIVA UMKM. Selama mengikuti DIVA UMKM, Bu Reno belajar banyak mengenai bagaimana caranya mengobrol dengan orang. Meskipun sudah pernah mengajar workshop kelas besar, sebagai seorang introvert, beliau membutuhkan rehat beberapa hari setelah bertemu dengan banyak orang. Namun, dengan menjadi trainer DIVA UMKM, beliau diharuskan berinteraksi terus menerus dan belajar menyesuaikan diri dengan setiap peserta sesuai kebutuhan mereka. Dari segi digital, Bu Reno merasa dengan mengikuti DIVA UMKM semakin dikuatkan dalam mengelolanya, yang awalnya hanya sebatas punya tetapi tidak diisi seperti Instagram atau Google Business. Dengan DIVA UMKM, beliau belajar untuk mengelolanya dengan benar hingga membuat pihak luar untuk bisa mengajak kolaborasi dengan beliau. Kisah Bu Reno ini membuktikan bahwa UMKM perempuan bisa bangkit dan berkembang, terlebih ketika mendapat dukungan dari program inklusif seperti DIVA UMKM. Hal ini menjadi motivasi nyata bagi lebih banyak perempuan untuk berani maju dan terus berkarya tanpa batas. Info : Instangram @godhongkoe

Bersama NGO Rangkul Perempuan Disabilitas dalam Meningkatkan Ekonomi Berbasis Teknologi Digital

Karanganyar-Yayasan Relawan Disabilitas Karanganyar didukung pihak eksternal melakukan perjuangan peningkatan ekonomi disabilitas melalui teknologi digital REDIFKRA (Relawan Disabilitas Karanganyar), organisasi non-profit yang pertama berdiri pada tahun 2017 di Karanganyar. Sesuai namanya, mulanya REDIFKRA hanya memfokuskan kegiatannya pada pendampingan disabilitas korban bencana. Namun seiring berjalannya waktu, REDIFKRA berkembang dan mulai memperluas kegiatannya pada berbagai bidang, terutama pada advokasi dan ekonomi. Tahun 2020 menjadi tahun penting bagi REDIFKRA, pasalnya lembaga ini secara resmi dinyatakan sebagai lembaga berbadan hukum, hal ini semakin memperkuat kiprahnya dalam masyarakat. Pak Sartono, seorang penyandang disabilitas fisik yang mengalami layu kaki merupakan orang dibalik berdirinya Relawan Disabilitas Karanganyar (RADIFKRA). Kondisi disabilitas sebagai masyarakat rentan terutama pada isu-isu sosial menjadi salah satu alasan utama mengapa ia mendirikan lembaga ini, menurutnya masyarakat rentan sangat memerlukan komunitas dalam meningkatkan kapasitasnya. ”Dengan berkomunitas kami punya harapan dan keyakinan hal ini dapat menjadi jalan kami untuk berproses dimasyarakat secara penuh. Artinya partisipasi kami akan lebih maksimal” ujar Pak Sartono ketika diwawancarai pada Rabu (30/7/2025). Dinas Sosial Kabupaten Karanganyar mencatat total penyandang disabilitas pada tahun 2022 mencapai angka 2.517 jiwa dimana rata-rata dari mereka masih memerlukan bantuan dalam beraktivitas. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Pak Sartono “ada keraguan, jadi saya harus meyakinkan keluarga mereka karena disabilitas rata-rata belum mandiri jadi saya harus komunikasi dengan keluarga kalo ada kegiatan“ tambah Pak Sartono ketika diwawancarai pada Rabu (30/7/2025). Namun, tantangan tersebut mampu ia hadapi dengan memperkuat komunikasi dengan keluarga penyandang disabilitas. Selain itu, ia juga memperkuat komunikasi dengan pemerintah setempat, hal tersebut membuahkan hasil dimana beberapa kegiatan RADIFKRA seperti pelatihan dibidang elektronika, peternakan dan menjait memperoleh dukungan dari pemerintah setempat. Kemudian pada Agustus Tahun 2023, REDIFKRA mendapat ajakan untuk melakukan kegiatan bersama JalaLentera dan KotaKita dalam program DIVA UMKM (Dorongan Inklusi dan Visibilitas UMKM Perempuan), sebuah upaya pemberdayaan perempuan dan perempuan disabilitas berbasis digital. Pada awal program diserahkan sekitar 90 nama disabilitas perempuan yang kemudian dipersempit dengan melakukan seleksi menjadi 20 nama. Program ini mulai dijalankan pada tahun 2024 dan akan berakhir pada tahun 2025. Dalam program DIVA UMKM, para DIVA (anggota) akan diberikan pelatihan berdasarkan 8 modul terkait dengan teknologi digital dan pemasaran online seperti penggunaan aplikasi canva untuk membuat logo, pemasaran melalui media sosial, dan live streaming. Peserta DIVA UMKM yang awalnya tidak familiar dengan dunia digital, lambat laun mulai menguasai teknologi yang digunakan sebagai sarana memperluas usaha mereka. Pak Sartono menjelaskan bahwa teknologi sekarang merupakan kebutuhan, dan karena itu dengan adanya program ini para DIVA yang awalnya hanya menggunakan smartphone untuk komunikasi berubah menjadi memanfaatkannya sebagai sarana pengembangan bisnis yang sekaligus meningkatkan kapsitas mereka. “Sekarang disela-sela kegiatan mereka buka canva belajar bikin logo, bagi saya itu pencapaian yang luar biasa karena HP bukan lagi cuma dipakai untuk komunikasi tapi dipakai sebagai penunjang bisnis” ujar Pak Sartono saat diwawancarai pada Rabu (30/7/2025). Kedepannya REDIFKRA berencana untuk tetap melanjutkan pertemuan secara mandiri meskipun tidak ada pendanaan dari JalaLentera dan KotaKita. REDIFKRA dan para DIVA sepakat bahwa pertemuan secara rutin akan diadakan untuk mengulang kembali modul pembelajaran yang telah dibuat oleh JalaLentera. Harapannya dengan dilakukan pertemuan rutin para DIVA dapat mengoptimalkan ketrampilan serta karya yang telah mereka buat. Pak Sartono juga berharap para DIVA memiliki portal pribadi untuk mempromosikan produk mereka secara mandiri, tujuannya agar para DIVA mendapatkan konsumen loyalitas yang membeli produk mereka bukan karena belas kasihan melainkan menghargai dan menyukai produk mereka. JalaLentera – Pertemuan DIVA UMKM REDIFKRA di Mojogedang, Karanganyar. Rabu, (23/7/2025) Info : Instagram : @kddgentunganmandiri Sumber ; Janati, Z. I., & Nurhasan, N. (2024, June). Evaluasi Toilet Disabilitas pada SLB N Karanganyar Fokus pada Pengguna Kursi Roda. In Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur (pp. 12-22).

Pertemuan Kedua DIVA UMKM Permata Tipes: Menuju Digitalisasi Usaha Mikro di Surakarta

Program DIVA UMKM yang diadakan oleh Yayasan Jalatera Indonesia kembali mengadakan pertemuan kedua di Kelurahan Tipes. Acara yang dimulai pada pukul 15.30 WIB ini dihadiri oleh para anggota UMKM lokal dan para trainer ahli. Dengan semangat yel-yel "Wanita Maju, Wanita Hebat, Tipes Jaya – jaya – jaya Yes," acara berlangsung meriah. Emy Susilawati, Ketua DIVA UMKM Permata Tipes, membuka pertemuan dengan sambutan hangat, diikuti oleh Madu Astuti yang memberikan motivasi kepada para peserta. Pertemuan ini juga menghadirkan sesi perkenalan anggota dan usaha mereka, serta diskusi harapan dan kekhawatiran yang dihadapi dalam menjalankan bisnis. Materi utama mengenai pengenalan program DIVA UMKM dan modul pengantar Digital (Go Digital 101) menjadi highlight acara, disampaikan oleh trainer berpengalaman. Diskusi penggunaan Instagram sebagai alat pemasaran digital memicu antusiasme para peserta. Pada akhir pertemuan, disepakati nama kelompok PERMATA TIPES (Perempuan Mandiri dan Tangguh) dan beberapa komitmen penting seperti kehadiran tepat waktu serta dukungan anggaran konsumsi dan transportasi untuk meningkatkan partisipasi anggota. Dengan adanya program ini, diharapkan UMKM di Tipes dapat berkembang dan meraih sukses melalui digitalisasi. Yayasan Jalatera Indonesia terus berkomitmen mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan melalui program-program inovatif dan relevan. Narasumber Peserta Peserta

DIVA UMKM, UPAYA SINERGITAS PEMKAB KARANGANYAR DAN LSM DALAM MEMPERKUAT LITERASI DIGITAL BAGI UMKM PEREMPUAN

Hari ini, Kamis 6 Mei 2024 bertempat di Ruang Garuda setda Kabupaten Karanganyar diadakan audiensi antara konsorsium LSM yaitu Yayasan Kota Kita Surakarta dan Yayasan Jala Lentera Surakarta. Audiensi diterima oleh Assisten II Sekda Kabupaten Karanganyar Bp. Titis Sri Jarwoto didampingi jajarannya baik dari beberapa Dinas dan staf ahli Bupati. Dyah Ayu Wecha, Direktur Yayasan Jalatera menyampaikan latar belakang program “Dorong Inklusi dan Visibilitas UMKM Perempuan melalui akses digital (DIVA UMKM)”; Di Indonesia, perempuan menghadapi kesenjangan yang signifikan dalam mengakses internet dibandingkan laki-laki, baik dalam hal literasi digital, keamanan digital, maupun keterampilan digital. Di satu sisi hampir Sebagian besar Usaha Mikro dan Usaha kecil di Kelola oleh Perempuan. Pasca Covid 19 mampu membuktikan bahwa UMKM memiliki kemampuan berdaptasi dibandingkan sektor lain untuk bisa eksis dalam menjalankan usahanya. Pasca Covid 19 juga menunjukkan trend baru Dimana konsumen mulai lebih tertarik dengan pembelanjaan dan transaksi keuangan secara digital. Kesenjangan dalam literasi digital ini dibutuhkan proses percepatan membangun ekosistem literasi digital khususnya bagi UMKM Perempuan. Hal ini sejalan dengan PERPRES No. 82 Tahun 2016 dan diperbaharui Nomor 114 Tahun 2020 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusi (SNKI). SNKI merupakan strategi nasional yang memuat tujuan, cara mencapai tujuan, sasaran, dan target keuangan inklusif dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi, percepatan penanggulangan kemiskinan, dan pengurangan kesenjangan antar individu dan antardaerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan jalan dukungan pengembangan UMKM dalam literasi digital termasuk didalamnya layanan keuangan digital. Dalam Program DIVA UMKM di Kabupaten karanganyar akan menyasar 3 Desa yaitu Desa Ngringo dan Desa Jaten Kecamatan Jaten, Desa Pendem Kecamatan Mojogedang dan Kelompok UMKM Perempuan Disabilitas di Kecamatan Mojogedang dan Kecamatan Kerjo. Selain Karanganyar kegiatan ini juga menyasar Kabupaten Klaten dan Kota Surakarta. Adapun kegiaten ini di dukung oleh Internet Society Foundation, Imbuh Nina Asterina Program Manager dari Yayasan Kota Kita. KickOff Meeting Diva UMKM di Kab. Karanganyar Assisten II Sekda Karanganyar, menyambut baik rencana Kerjasama ini. Hal ini sejalan dengan rencana strategis pemerintah kabupaten dalam pengembangan sektor pariwisata yang akan diintegrasikan dengan kekuatan UMKM untuk mendukung produk-produk unggulan kabupaten untuk penunjang wisata. Kebutuhan Pendidikan Literasi digital saat ini mutlak dibutuhkan UMKM untuk mempermudah dan mendekatkan antara UMKM dengan konsumen dalam melakukan transaksi. Rencana DIVA UMKM untuk mendorong pemasaran bersama secara digital dengan pengembangan platform local disetiap desa dengan melakukan optimalisasi peran BUMDES sebagai actor utamanya, diharapkan akan mampu mendorong setiap desa dalam penggunaan Dana Desa yang mengarah untuk kemajuan UMKM dan mampu menyejahterakan Masyarakat sekaligus mempromosikan potensi yang dimiliki oleh desa. Dalam pertemuan tersebut, sekaligus disepakati NOTA KESEPAKATAN antara Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan Konsorsium DIVA UMKM untuk membangun sinergitas dalam mengawal proses percepatan literasi digital bagi UMKM di Kabupaten Karanganyar.

STRATEGI PERCEPATAN PENANGGULANGAN KEMISKINAN PADA PEREMPUAN MISKIN PERKOTAAN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN PER-KAPITA KELUARGA

Kelurahan Tipes merupakan kelurahan paling miskin di Kecamatan Serengan di Surakarta. Adapun kantong kemiskinan kelurahan Tipes berada di RW 13, hampir sebagian besar masyarakatnya tinggal di tanah negara yang berupa tanah makam dan bantaran sungai Jenes. Yayasan JALATERA memiliki komitmen yang tinggi untuk melakukan proses-proses advokasi ke pemerintah daerah, agar kantong-kantong kemiskinan digarap secara serius sehingga masyarakatnya bisa hidup bermartabat dan mendapatkan hak untuk sejahtera. RW 13 Kelurahan Tipes dicanangkan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kota surakarta sebagai pilot project percepatan penanggulangan kemiskinan. JALATERA melakukan proses pendampingan untuk pemetaan dengan metodologi Participatory Poverty Assesment (PPA) guna menghasilkan dokumen potensi dan masalah lingkungan, mulai dari perbaikan atas data warga miskin juga melakukan proses pemetaan kemiskinan berbasis spasial atau lingkungan. Salah satu potensi perempuan miskin di wilayah tersebut adalah memiliki kemampuan menjahit, dengan memanfaatkan limbah kain perca yang merupakan sisa potongan dari pabrik konveksi. JALATERA mendorong proses-proses advokasi percepatan penanggulangan kemiskinan, adapun tahapan kegiatan untuk mendorong pendapatan perempuan miskin perkotaan adalah sebagai berikut : Adapun dampak kelompok ekonomi yang lain adalah sebagai berikut :

Hasil Pemetaan Permasalahan Kelompok Dalam Inklusi Keuangan Digital

NoMasalahMengapa Masalah tersebut terjadiDampak MasalahUpaya yang sudah dilakukan untuk menyelesaikan masalahTrend Umum Perkembangan Pasar UMKM1.Penurunan Omzet mencapai 60 % - 70 % Saat Covid 19Kondisi Perekonomian masyarakat yang lesu berdampak pada omset yang diraihProduksi hanya dilakukan pada saat ada pesanan saja Jumlah barang yang di konsinyasi dikurangi jumlahnya Modal kerja banyak digunakan untuk menutup kebutuhan Rumah TanggaHanya menunggu kondisi perekonomian membaik2Kenaikan omzet yang lambat Pasca Covid sampai dengan saat iniKondisi ekonomi Masyarakat belum pulih benar Mulai banyak pedagang/ UMKM baru yang muncul pasca Covid yang dulunya sebagai pembeli Ada Trend baru pasca covid, dimana banyak masyarakat memilih pembelian dengan on-lineOmzet masih di level 70 % s/d 80 % dibandingkan pada saat sebelum covidRajin promosi pada pelanggan-pelanggan lama melalui Whatshap + Instagram (baik japri maupun Group WA) Belajar On line shop Memberdayakan anak untuk memantau pesanan, karena masih gagap teknologi.Ada Kesadaran di UMKM untuk mengikuti trend pasar dengan “Digital Marketing”Persolan yang terkait dengan Pemasaran produk1Pasar Makanan Basah masih susah di prediksi jumlah Rata-rata permintaan pasarMasyarakat mulai menerapkan membeli produk sesuai kebutuhan Semakin banyak pesaingBarang sering terjadi return, khususnya yang model konsinyasiMengurangi Jumlah produksi dan tidak sesuai dengan yang diorder pengepul barang/yang di titipi.2Pengusaha yang sudah melakukan digital marketing cukup berat dengan sistem pembayaran yang dilakukan setiap bulan sekaliPengambilan uang hasil penjualan dilakukan satu bulan sekali, sehingga banyak modal kerja yang mandeg dan tidak bisa diputar.Butuh modal kerja 3 kali lipat dengan model pembayaran seperti itu. Sebagian besar tidak melakukan perhitungan Rugi-laba atas komponen modal kerja yang berhenti di e-commerceUntuk memenuhi kebutuhan modal kerja dipenuhi dari : Pinjam Saudara Hutang Toko Bahan Baku Optimalisasi Down Payment (DP) Pinjam Koperasi Kampung Pinjam Bank Titil3COD Sering kembaliBarang tidak sesuai yang di inginkan pembeli Tidak ketemu alamat pembeliRugi Packaging Biaya Paket di tanggung oleh E-commerceSeluk Beluk dalam Sistem Manajemen e-commerce masih belum dipahami secara utuh oleh pelaku UMKMManajemen Keuangan UMKM1Sistem keuangan masih dicampur dengan keuangan keluargaTidak adanya pembukuan dalam mengelola usahaSeringkali tidak memiliki uang untuk produksi karena sudah terpakai untuk kebutuhan rumah tanggaPinjam Saudara Hutang Toko Bahan Baku Optimalisasi Down Payment (DP) Pinjam Koperasi Kampung Pinjam Bank Titil2Keuntungan yang diraih sangat kecilTidak menghitung komponen jasa pada saat modal produksi dari pinjaman. Mengikuti harga pesaingHasil penjualan sangat minim, tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkanTetap bertahan untuk menjaga pelangganDibutuhkan Penguatan Kapasitas dalam Manajemen Usaha, Kemampuan menghitung Rugi-laba dll.Kebutuhan Modal Kerja1Pinjaman KUR sering melebihi kebutuhan untuk produksiPenawaran jumlah pinjaman bank Seringkali tergoda untuk mengambil jumlah lebih dari yang dibutuhkanPinjaman seringkali digunakan untuk pemenuhan kebutuhan keluarga, dan berdampak cukup berat pada saat mengangsur2Tidak mengetahui seluk beluk pinjaman On-LineBerita di media sosial tentang ancaman yang tidak mengangsur + penyebaran informasi hutang kita pada relasi Pengertian bunga yang cukup tinggi mencapai 25 %Tidak berani melakukan pinjaman On lineDibutuhkan Penguatan Pengetahuan sistem Perbankan dan Regulasi Jaminan dalam Per-bank-anPackaging1Packaging produk tidak menarikPengetahuan packaging yang masih kurangPenjualan kalah bersaing dengan produk yang packagingnya sudah bagus2Foto Produk on-line belum menarikPengetahuan menapilkan gambar produk belum menarikPenjualan kalah bersaing dengan produk yang packaging dan fotonya sudah bagusDibutuhkan Penguatan Kapasitas dalam packaging dan menampilkan ProdukPengetahuan Digitalisasi1Lambatnya merespon pertanyaan calon pembeliWaktu lebih banyak digunakan untuk produksi, sehingga lambat merespon calon pelanggan. Gagap teknologi dan mengandalkan anaknya, yang seringkali juga lambat merespon karena kesibukan anak.Batalnya Pesanan2Pelatihan yang dilakukan dinas dalam pemasaran On-line masih belum detail dan tidak dilakuka pendampinganSudah punya account tapi tidak digunakanBelum optimal dalam digital marketing3Tidak berani melakukan transfer pengetahuan kepada anggota kelompokMasih belum percaya DiriPengetahuan tidak tertransfer kepada anggota lainPerlu upaya Strategi Pendampingan agar penguasaan materi dikuasai

BIOGAS SEBAGAI ENERGI HIJAU DAN STRATEGI MENGURANGI ANCAMAN WATER, SANITATION AND HYGIENE (WASH) DI KABUPATEN BOYOLALI

REVOLUSI HIJAU DAN DAMPAK PADA PERTANIAN Perubahan iklim di Indonesia menjadi sebuah ancaman serius, diperkirakan akan terjadi peningkatan suhu udara 0,5 derajat celsius pada tahun 2030. Kasus kekeringan juga akan meningkat di sebagian besar Pulau Jawa dan hujan lebat hingga ekstrem juga cenderung meningkat hingga 40 persen dibandingkan saat ini. Indonesia juga merupakan bagian dari penyumbang emisi gas rumah kaca dan pada tahun 2021 masuk peringkat ke sepuluh dunia, dimana total emisi mencapai 615,93 MtCO2 atau sekitar 1,72 % dari total emisi karbon Global. Dalam proses budidaya pertanian, kondisi ideal agar bisa berkelanjutan adalah mengintegrasikan on farm (Pertanian) dan off farm (Peternakan), dimana ketersediaan pupuk organic akan mengurangi pemakaian pupuk kimia dan pestisida. Model pertanian mulai berubah Ketika pemerintahan orde baru menerapkan kebijakan “REVOLUSI HIJAU” pada tahun 1960-an. Program ini dikenal dengan nama Bimas (Bimbingan Masyarakat) dan Inmas (Intensifikasi Massal). Revolusi Hijau bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya subsektor pertanian pangan, melalui penerapan teknologi modern seperti bibit unggul, pupuk, dan pestisida. Setelah sekian decade, penggunaan intensif pupuk kimia dan pestisida untuk meningkatkan hasil panen telah mencemari tanah, air, dan udara. Pencemaran ini tidak hanya mengancam kesehatan manusia dan ekosistem, tetapi juga mengurangi kesuburan tanah dalam jangka panjang. Selain itu, praktik pertanian monokultur yang mengandalkan satu jenis tanaman dalam skala besar telah menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati tanaman lokal dan satwa liar. Hal ini mengganggu keseimbangan ekosistem dan membuat pertanian menjadi lebih rentan terhadap hama dan penyakit. Revolusi Hijau juga berkontribusi pada perubahan iklim melalui praktik-praktik seperti penggundulan hutan untuk lahan pertanian dan emisi gas rumah kaca dari penggunaan pupuk kimia. Dampak lainnya adalah berkurangnya minat petani untuk beternak khususnya sapi maupun kambing, ketidaktersediaan pupuk kandang mengakibatkan ketergantungan yang sangat besar pada pada pupuk kimia dan pestisida. LIMBAH SAPI, ANCAMAN ATAU POTENSI ? Kabupaten Boyolali, propinsi Jawa Tengah, merupakan wilayah peternakan sapi baik perah maupun sapi potong khususnya di kecamatan Selo, Ampel, Musuk, Cepogo dan Mojosongo, dimana rata-rata setiap keluarga memiliki 2-3 ekor sapi. Tercatat di Badan Pusat Statitik (BPS) 2024, populasi sapi mencapai 135.150 ekor. Pengelolaan limbah sapi yang baik dan benar akan menjadi potensi dalam mendukung ancaman perubahan iklim, tetapi bila tidak benar dalam pengelolannya akan menjadi ancaman khususnya pada Water, Sanitation and Hygine (WASH). “Bagaiman proses limbah sapi menjadi ancaman pada WASH ??” Selama ini peternak membuang kotoran limbah padat sapi dengan dibuang dan ditumpuk di belakang rumah, dan limbah urine maupun air pembersihan kandang ke selokan yang berada di dekat pemukiman tanpa melakukan pengolahan terlebih dahulu. Pengelolaan limbah sapi dengan cara tersebut akan berdampak , diantaranya : Limbah padat yang dikumpulkan dibelakang rumah biasanya baru digunakan untuk pupuk setelah tiga bulan, model pengelolaan ini akan berpengaruh pada : Bau yang tidak sedap sepanjang tahun, dan akan berpengaruh pada kesehatan khususnya pada kelompok rentan yaitu anak-anak dan ruang konflik antar tetangganya khususnya yang tidak memiliki sapi. Pada saat hujan akan mencemari sumur tanah yang menjadi sumber baku air minum dan kebutuhan sehari-hari. Pupuk sapi yang terkena matahari dan hujan akan mengalami penurunan kualitas dan efektivitasnya, karena rusaknya mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman. Limbah cair yang dibuang ke selokan, akan berpengaruh pencemaran sungai. Dimana 4 kecamatan diatas berada di ketinggian 450 dpl-1399 dpl dan sungai-sungai akan kering saat kemarau. Akumulasi limbah cair ke sungai akan menimbulkan bau tidak sedap dan saat musim hujan akan berpengaruh pada sumber mata air pada wilayah kecamatan dibawahnya. Dimana karakteristik gunung Merapi dan merbabu di Kabupaten Boyolali, sumber mata air yang melimpah berada pada kecamatan-kecamatan dibawah 4 kecamatan tersebut. DIGESTER BIOGAS SOLUSI PENGELOLAAN LIMBAH SAPI SEBAGAI UPAYA MITIGASI PERUBAHAN IKLIM Teknologi biogas sudah dikenal sejak tahun 1990-an dan teknologi ini diyakini mampu menyelesaikan berbagai persoalan, diantaranya sumber energi memasak pengganti gas elpiji serta mampu menjaga pencemaran air, sanitasi yang sehat bagi lingkungan termasuk ketersedian pupuk organic mengurangi pemakaian pupuk kimia dalam pertanian. Gambar : Alur Digester Biogas Limbah Ternak Dengan 1 teknologi biogas akan mampu menyelesaikan berbagai masalah baik itu Water, Sanitation and Hygine (WASH), energi hijau pengganti elpiji atau kayu bakar dan pertanian berkelanjutan, konflik di tingkat masyarakatmampu diminalisir akibat bau limbah. Dengan model sirkulasi mulai pembersihan kandang langsung masuk ke digester dan kotoran yang sudah tidak menghasilkan gas methan akan keluar secara otomatis tergantikan dengan limbah baru. Keunggulan biogas permanen bisa dipakai sepanjang tahun, tidak butuh perawatan khusus. Kotoran yang keluar akan siap menjadi kompos (Slurry) baik cair maupun padat. Setiap 1 digester biogas akan menghasilkan pupuk kompos (Slurry) antara 60-84 kg tiap 3 minggu dari 120 kg bahan dasar yang diolah biogas untuk ukuran 6 M3. Slurry yang dihasilkan bisa disimpan dalam karung.Dibandingkan dengan ditumpuk, membutuhkan waktu waktu selama 3 bulan untuk matang dan baru siap diaplikasikan ke pertanian. Butuh tenaga ekstra untuk mengolah limbah sapi dengan cara ini yaitu dengan perlakukan sering di bolak-balik agar cepat matang. Resiko yang paling tinggi dengan model pengelolaan ini adalah ancaman pada WASH. Diagram Alur IPAL Digester Limbah Ternak Biogas akan mampu melahirkan Sistem pertanian berkelanjutan yaitu suatu pendekatan dalam pengelolaan lahan pertanian yang bertujuan untuk menghasilkan produk pertanian secara ekonomis, sosial, dan lingkungan yang berkelanjutan. Sistem ini harus mampu mempertahankan produksi pangan dalam jangka panjang tanpa merusak sumber daya alam seperti tanah, air, dan udara. Dalam praktek yang dilakukan dalam pengelolaan pertanian organic efisiensi pemakain pupuk kimia mencapai 50 % sampai 60 %. Hal ini juga mampu menyiapkan tetersedian pangan yang sehat untuk di konsumsi. Meskipun Biogas sudah dikenal sejak tahun 1990an, tetapi realitas jumlah digester yang berkembang di Masyarakat khususnya di Kabupaten Boyolali jumlahnya belum signifikan dengan jumlah sapi yang ada. Salah satu faktornya adalah mahalnya investasi pembangunan digester yang cukup mahal, untuk ukuran 6 M3 antara 13 juta sampai 15 juta bila dikerjakan oleh konsultan atau perusahaan. Dibutuhkan upaya mendorong memperbanyak tukang ahli di tingkat masyarakat yang memiliki kemampuan dalam membangun digester biogas, dengan strategi ini efisiesni Pembangunan bisa mencapai 30 % sampai 50 % bila dibandingkan dikerjakan oleh konsultan. Advokasi ke pemerintah perlu dilakukan khususnya dalam pengembangan skema kredit yang murah bagi peternak untuk Pembangunan digester biogas dan ini bagian dari bentuk penghargaan pemerintah atas kontribusi masyarakat dalam mitigasi perubahan iklim. Ditulis oleh Zakaria (Yayasan Jalatera)

Tulisan Lainnya